FOLLOW KAMI DI

Pencarian
Polling
Bagaimanakah Website Masjid Agung Jami Malang ?
 
Jumlah Pengunjung
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini155
mod_vvisit_counterKemarin621
mod_vvisit_counterMinggu Ini776
mod_vvisit_counterMinggu Lalu3028
mod_vvisit_counterBulan Ini8251
mod_vvisit_counterBulan Lalu14986
mod_vvisit_counterJumlah1548217

We have: 34 guests online
IP: 54.82.79.109
18 Des, 2017



PostHeaderIcon Terbaru

Meratapi Siksa dan Nikmat Kubur

Pada suatu ketika Hasan Al Bashri duduk di teras rumah seorang diri. Tiba-tiba di depan rumah lewat jenazah yang diiringi sanak kerabat dan teman-temannya. Di antara sekian banyak orang, terdapat putri si mayit yang mengiring sambil menangis. Hasan  Al Bashri segera berdiri, ikut mengiring jenazah, hingga mendengar ucapan putri si mayit yang sedang menangis:

"Hai ayahku, selama hidupku aku tidak akan pernah lagi menemukan suatu hari yang sangat menyedihkan seperti sekarang ini." Hasan Al Bashri kemudian berkata: "Hai perempuan, engkau tidak akan menemui ayahmu lagi seperti sekarang ini."

Hasan Al Bashri kemudian menyalati jenazah di atas kuburnya, lalu pulang. Keesokan harinya, ketika Hasan Al Bashri duduk di teras rumah, melihat perempuan itu lewat akan berziarah ke makam ayahnya. Dalam hati Hasan Al Bashri berkata: Perempuan ini adalah orang yang mendapat hikmah dari sisi Allah. Aku ingin mengikutinya, barangkali aku mendapatkan hikmah yang bermanfaat buat diriku, baik dari perkataan maupun perbuatan perempuan itu. Lalu Hasan Al Bashri mengikuti perjalanan perempuan itu sambil memperhatikan setiap sesuatu yang dilakukannya.

Setelah perempuan itu sampai di makam ayahnya, Hasan Al Bashri menyembunyikan diri. Dari kejauhan terlihat perempuan itu langsung memeluk kubur ayahnya sambil menunduk, seraya berkata. "Hai ayahku tercinta, bagaimana keadaanmu semalam setelah berada dalam kegelapan kubur seorang diri. Ayahku, kemarin aku yang memberi lampu penerang, terus siapakah sekarang yang menyalakan lampu buatmu. Ayahku, kemarin aku yang memberimu tikar di atas tempat tidur, terus siapakah sekarang yang memberimu tikar. Ayahku, kemarin aku yang memberimu selimut tebal, terus siapa sekarang yang memberimu selimut itu. Ayahku, kemarin aku yang memberimu minum, terus siapakah sekarang yang mengantar minumanmu.  Ayahku, kemarin aku yang selalu merindukan wajahmu, terus siapakah sekarang yang merindukan wajahmu. Ayahku, kemarin engkau selalu memanggilku, terus siapakah sekarang yang engkau panggil dan menjawab panggilanmu. Ayahku, bila engkau menginginkan makan dan minum aku yang melayani, lalu sekarang siapakah yang melayanimu.

Mendengar pertanyaan panjang yang disampaikan kepada ayahnya itu, Hasan Al Bashri sangat terharu, hingga air matanya bercucuran. Lalu dia mendekati perempuan tersebut, seraya berkata: "Hai anak yang manis, janganlah engkau mengucapkan hal seperti itu. Tapi, ucapkanlah: "Ayahku, kemarin engkau menghadap kiblat, masihkah sekarang engkau menghadapnya. Ayahku, kemarin aku mengkafanimu dengan kain yang bagus, masihkah sekarang kain kafan itu, ataukah sudah lepas darimu. Ayahku, kemarin aku meletakkan dirimu di dalam kubur dalam keadaan utuh, masihkah sekarang badanmu utuh atau sudah hancur dimakan tanah.  Ayahku, para ulama telah berkata bahwa kubur bisa diluaskan, dan bisa pula disempitkan. Terus sekarang engkau termasuk orang yang diluaskan kuburnya, atau termasuk orang yang disempitkan. Ayahku, para ulama berkata, sebagian kafan orang yang meninggal ada yang diganti dengan kain kafan dari surga, ada juga yang diganti dengan kain kafan dari neraka. Terus sekarang engkau mendapatkan ganti kafan dari surga atau dari neraka. Ayahku, para ulama telah berkata bahwa liang kubur merupakan bagian dari pertamanan surga, atau bahkan menjadi bagian dari jurang neraka. Terus sekarang engkau termasuk orang yang berada di petamanan surga atau berada di jurang neraka. Ayahku, para ulama telah berkata, liang kubur bisa mengasihi penghuninya sebagaimana seorang ibu mengasihi penghuninya sebagaimana seorang ibu mengasihi anaknya, bahkan ada yang sangat benci kepada penghuninya, sebagaimana seorang ibu tiri membenci anak tirinya. Apakah engkau termasuk orang yang dikasih sayangi, atau termasuk orang yang sangat dibenci oleh kubur. Ayahku, para ulama berkata setiap orang yang masuk ke liang kubur tentu akan menyesal. Bagi orang bertakwa, menyesal karena kurang banyak melakukan amal kebajikan. Sedang bagi orang yang melakukan maksiat, menyesal karena terlalu banyak dosa yang dilakukan. Terus sekarang engkau termasuk orang yang menyesal karena kurang banyak melakukan amal kebajikan, atau menyesal karena banyaknya dosa yang telah dilakukan. Ayahku, engkau sudah tidak akan bertemu lagi denganku hingga hari kiamat nanti."

Hasan Al Bashri kemudian mendo'akan perempuan itu: "Allahumma la tahrimna liqoahu yaumal qiyamati (Ya Allah, janganlah engkau halangi dia untuk bertemu dengan ayahnya di hari kiamat nanti)." Lalu perempuan itu berkata kepada Hasan Al Bashri: "Ya Hasan, aku sampaikan banyak terima kasih atas peringatanmu, serta nasehat yang telah engkau berikan kepadaku. Nasehat itu ibarat telah membangunkan hati orang yang sedang tertidur, lalu terperanjat ingat kepada Allah." Perempuan shalihah itu segera pulang bersama Hasan Al Bashri sambil menangis lantaran teringat, serta takut kepada adzab Allah SWT.

 
Selamat Datang di Website Resmi Masjid Agung Jami Malang - Indonesia , Kirimkan Kritik, Saran dan Informasi ke admin@masjidjami.com