klik disini untuk mendengarkan

<Klik Online Blackberry/Android>


Pencarian
Polling
Bagaimanakah Website Masjid Agung Jami Malang ?
 
Jumlah Pengunjung
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini227
mod_vvisit_counterKemarin1127
mod_vvisit_counterMinggu Ini2004
mod_vvisit_counterMinggu Lalu2561
mod_vvisit_counterBulan Ini6347
mod_vvisit_counterBulan Lalu18365
mod_vvisit_counterJumlah917849

We have: 4 guests online
IP: 54.205.160.82
16 Apr, 2014







PostHeaderIcon Terbaru

PostHeaderIcon Sumur Bor Artesis Masjid Agung Jami Malang

Sumur Bor Artesis Masjid Agung Jami  Malang
Hampir Putus Asa, Tiba-tiba Air Keluar


KANDUNG ALKALINITAS : Sumur air artesis Masjid Jami Agung Malang yang berhasil mengeluarkan air tanpa di pompa dengan kedalaman 205 meter
.

SUMUR bor artesis di tengah kota bukan hal yang tidak mungkin. Masjid  Agung Jami Kota Malang sudah membuktikannya. Air dalam sumur bor dapat naik sendiri tanpa harus di pompa meski kedalamannya mencapai 205 meter. Namun, untuk mendapatkan sumur artesis bukan hal yang mudah, tapi dengan kekuatan doa semua dapat terwujud.

Wajah para takmir Masjid Agung Jami Malang terlihat sumringah. Sumur bor artesis yang telah mengalir 15 liter per detik sudah dianggap layak minum. Kepastian itu diperoleh setelah air yang keluar pada 10 Maret lalu itu, dilakukan uji kualitas air yang dilakukan PDAM Kota Malang. Hasilnya, air dari sumur artesis itu memenuhi syarat untuk diminum. Tidak hanya sekedar memenuhi syarat untuk diminum, air itu pun mengandung alkalinitas (Ph) yang cukup tinggi mencapai 273.31.

Dengan memiliki kadar alkalinitas yang cukup tinggi, air itu dapat digunakan untuk pengobatan. Tidak hanya itu saja, air yang mengalir dari sumur bor artesis itu memiliki kandungan total dissolved water (TDS) yang mendekati kandungan TDS air zam-zam. TDS air artesis masjid jami sebesar 437 sedangkan air zam-zam 430 TDS.

Belum banyak yang tahu kalau air artesis milik Masjid Jami itu memiliki banyak kelebihan. Tapi tidak sedikit yang sudah merasakan manfaat dari air itu. Bahkan sudah ada takmir masjid yang merasa lebih baik kondisi kakinya yang sering gatal setelah direndam dengan air artesis itu. Ada juga yang membawa botol-botol air kemasan untuk diisi dengan air itu. Alasannya untuk pengobatan.

Untuk sementara, air artesis itu dibuang ke kali oleh Takmir Masjid karena belum memiliki tandon air. Air itu dibuang melalui saluran kecil yang ada di sebelah utara masjid. Nantinya, air itu akan digunakan untuk keperluan masjid dan tidak lagi menggunakan PDAM atau air sumur, yang biasanya mensuplai kebutuhan masjid untuk air wudhu dan keperluan lainnya.

“Ada yang meminta izin kami untuk meminta air artesis itu untuk pengobatan. Ada juga jamaah yang setiap harinya meminum air itu dan sampai sekarang tidak ada keluhan. Menurut pakarnya, air mengandung alkanilitas berkhasiat untuk pengobatan. Tapi tetap kesembuhan itu hanya milik Allah,” kata Ketua I Takmir Masjid Jami Agung Malang, Drs. H. M. Kamilun Muhtadin.

Ditambahkan, sumur artesis adalah sumur yang bertekanan tinggi karena dia terjebak dalam batuan yang memiliki tekanan, sehingga ketika dilakukan pengeboran, air dapat naik sendiri tanpa harus di pompa.

Untuk mendapatkan sumur artesis itu bukan hal yang mudah. Takmir Masjid Jami hampir putus asa untuk memperolehnya. Bagaimana tidak? hingga kedalaman 150 meter lebih air yang ditunggu tidak juga keluar. Bukannya air malah lumpur yang selalu memenuhi mata bor. Pengeboran sumur dilakukan hari Rabu, 27 Januari atau bertepatan 11 Muharram 1431 H. Sebelum dimulai, digelar doa bersama dengan pembacaan manaqib yang diikuti jamaah Masjid Jami, habaib, ulama, anak yatim dan juga kaum duafa serta khataman Al quran bil ghoib.

Pengeboran sumur artesis itu dianggarkan sebesar Rp 150 juta. Anggaran itu tidak ditanggung masjid jami, tapi sudah ada salah seorang dermawan yang menanggung seluruh biaya pengeboran. Dengan penuh keyakinan dan berserah diri pada Allah, pengeboran dilakukan di sebelah utara masjid yang saat ini tengah dilakukan pembangunan perluasaan.

Setiap hari Jumat, ribuan jamaah salat Jumat selalu diajak untuk berdoa agar pengeboran diberikan kemudahan untuk mencapai sumur artesis. Tapi, hingga satu bulan belum juga menunjukan hasil padahal kedalaman mata bor sudah menyentuh kedalaman 176 meter belum mengeluarkan air tapi lumpur. Saat itu, pelaksana pengeboran sempat angkat tangan karena hingga 176 meter belum juga ada titik terang air akan naik.

Untuk mencapai kedalaman itu, kali beberapa mata bor sempat rusak dan harus dilakukan perbaikan. Mata bor harus berhadapan dengan batu-batu besar di dalam tanah. Setiap kali kerusakan harus memperbaiki alat yang nilainya mencapai Rp 1 juta sampai Rp 5 juta setiap kali perbaikan. Takmir tidak patah arang dan tetap meminta pelaksana pengeboran terus berusaha hingga kedalaman 200 meter. Usaha pun terus dilakukan Takmir dan pelaksana pengeboran. Pekerja terus berusaha mencapai 200 meter, takmir berusaha dengan kegiatan religi munajat kepada Allah agar diberikan air. Anak yatim, para duafa, khataman bil ghoib, para ulama, habaib ikut membantu di sekitar area pengeboran dengan berdoa dan berdoa. “Kami sempat takbir di lubang pengeboran dan menggelar doa. Mengapa Allah tidak juga memberikan air yang diharapkan. Doa terus kami panjatkan tanpa henti,” ungkapnya.

Hingga kedalaman 200 meter, belum juga air naik dari lubang pengeboran. Takmir hampir putus asa karena air tidak kunjung keluar. Para pakar air pun sudah menyatakan sudah tidak mungkin lagi akan menemukan air artesis dan akan bersiap menarik air dengan pompa. Takmir pun harus merayu lagi hingga kedalaman 205 meter. Kedalaman itu sudah batas akhir bagi pelaksana pengeboran dan sudah bersiap untuk mencopot semua alat-alat pengeboran, hanya mata bor yang masih tertancap di tanah karena terjebak lumpur. Usaha untuk mendapat air artesis pun sudah dinyatakan tidak bisa lagi dan harus ditarik dengan pompa.

Meski sudah dinyatakan tidak bisa lagi, doa-doa terus dimunajatkan kepada Allah. Sebelum Maghrib pada hari Rabu, 10 Maret yang bertepatan 24 Rabiul Awwal, Habib Baqir Mauladawilah ikut berdoa dengan membawa air yang telah dicampur dengan tanah yang diambil dari Hadramaut Yaman. Air campur tanah itu di masukan ke dalam lubang pengeboran. Doa-doa pun terus dipanjatkan pada hari ke-41 pengeboran.

Masya Allah, diluar nalar manusia, sekitar jam 23.00 WIB di saat tidak ada lagi pekerjaan pengeboran, tiba-tiba petugas keamanan masjid di kagetkan dengan air yang mengalir deras dari arah lubang pengeboran. Setelah dilihat, air itu keluar dari lubang pengeboran dengan cukup deras. Saat itu pula, petugas keamanan menghubungi Takmir Masjid, termasuk Kamilun. Mengetahui hal itu, Kamilun langsung beranjak ke masjid dari rumahnya yang berjarak sekitar 500 meter. Sontak saja, kalimat syukur, takbir berkumandang menandakan syukur atas sumur artesis yang diberikan Allah kepada Masjid Jami.

“Takut menggangu arus di jalan Merdeka Barat banjir, air yang keluar langsung kami beri pipa besar yang diarahkan ke sungai kecil di belakang masjid. Hingga saat ini air itu kami alirkan ke sungai karena belum ada tendon,” jelasnya.

Sebelum salat Subuh, takmir dan para jamaah banyak yang mengambil wudhu di aliran air artesis yang keluar dari lubang bor. Usai salat Subuh Takmir dan jamaah langsung melakukan sujud syukur sebagai ungkapan syukur kepada Allah yang telah memberikan sumur artesis.

Karena sumur yang dibangun dengan doa-doa itu mengalir cukup deras, 15 liter per detik dan memiliki banyak kandungan yang bermanfaat. Ada pemikiran sebagian air itu akan digunakan untuk air minum dalam kemasan. Tapi hal itu akan dikaji terlebih dahulu oleh Majelis Tahkim yang akan memutuskan hukumnya melalui kajian hukum Islam. (muhaimin/malang post)

 
Selamat Datang di Website Resmi Masjid Agung Jami Malang - Indonesia , Kirimkan Kritik, Saran dan Informasi ke admin@masjidjami.com
<---