FOLLOW KAMI DI

Pencarian
Polling
Bagaimanakah Website Masjid Agung Jami Malang ?
 
Jumlah Pengunjung
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini144
mod_vvisit_counterKemarin713
mod_vvisit_counterMinggu Ini2443
mod_vvisit_counterMinggu Lalu3583
mod_vvisit_counterBulan Ini6677
mod_vvisit_counterBulan Lalu14155
mod_vvisit_counterJumlah1745769

We have: 20 guests online
IP: 54.234.228.78
14 Des, 2018



PostHeaderIcon Terbaru

Keterbatasan Ilmu Manusia
Oleh: H Henny Mono

Terlepas dari penilaian apakah tindakan seseorang tersebut didasari rasa ikhlas atau tidak, yang pasti perbuatan itu dilakukan demi memenuhi kebutuhannya sebagai mahluk hidup. Memang, kebutuhan manusia sebagai mahluk hidup  tidak terbatas pada kebutuhan fisik semata, tapi juga terdapat kebutuhan psikis dan sosial. Karenanya kebutuhan hidup manusia itu amat beragam. Bahkan nyaris dapat dikatakan tidak terbatas, hingga manusia dikuburkan.

Dengan kata lain, selama sosok individu yang dinamakan manusia tersebut masih hidup, maka akan terus bermunculan dibenaknya kebutuhan-kebutuhan dan kepentingan-kepentingan hidupnya. Manusia sebagai sosok mahluk hidup yang diciptakan Tuhan, dalam dirinya memang telah dilengkapi dengan akal-pikir, hati (qalbun), dan nafsu.

Dengan akal pikirnya, manusia dapat mefungsikan otak kanannya yang bersifat intuitif-holistik untuk berfikir tentang keindahan, dan dengan otak kirinya yang bersifat logik-aritmatik manusia dapat berfikir mengenai logika-logika dan statistika. Melalui hatinya, manusia dapat mempertimbangkan apa yang dipikirkannya berkaitan dengan nilai-nilai normatif kemasyarakatan. Baik berkaitan dengan norma agama, norma hukum, maupun norma sopan santun dalam tatanan kehidupan sosial. Sedangkan dengan nafsunya manusia dapat "bergerak", untuk mefungsikan akal pikirnya agar dapat memenuhi kebutuhan dan kepentingan hidupnya.

Sebagaimana tertulis dalam kitab suci, manusia itu diciptakan untuk menjadi khalifah dengan kedudukannya sebagai centre of mind (pusat pemikiran) dalam sistem kendali alam semesta. Sebab itu sosok individu yang disebut sebagai manusia menjadi wajib hukumnya memiliki ilmu untuk mampu membaca, memahami, dan mengerti tentang hakekat dari keberadaannya sendiri.

Dengan demikian manusia yang berilmu, yang memahami tentang peran dan kedudukannya sebagai khalifah, akan menempatkan dirinya sebagai subyek dalam posisi diametral dengan Tuhannya, yakni antara hamba dan Penciptanya. Sebaliknya, manusia yang terbelenggu oleh ego-sentrisnya secara membabi buta, yang tanpa disadarinya dapat saja terjadi manusia yang seperti itu tergelincir, dan terbawa arus tipuan-tipuan kemasan modernitas, sehingga kedudukannya telah menjadi obyek dalam sistem kealamsemestaan.

Kenyataan ini menunjukkan bahwasanya bidang keilmuan itu memiliki keterbatasan-keterbatasan yang tertentukan sifatnya. Itulah yang disebut dengan keahlian-keahlian (expert). Berangkat dari uraian di atas dapat ditarik suatu konklusi, bahwa keberhasilan maupun kegagalan seseorang pada dasarnya dilatarbelakangi masalah kemampuan di bidang ilmu pengetahuan. Itu berarti, ilmu pengetahuan dapat disebut sebagai kausa utama yang menempati prioritas pertama dalam sistem pengembangan sumber daya manusia (SDM) dalam kerangka memenuhi kebutuhan hidup.

Nabi Muhammad SAW bersabda: "Barangsiapa yang menginginkan kehidupan dunia, maka haruslah ia memiliki ilmu. Dan, barangsiapa yang menginginkan kehidupan akhirat, maka wajiblah ia memiliki ilmu. Dan, barangsiapa mengharapkan kedua-duanya (dunia dan akhirat), maka ia pun harus memiliki ilmu."

Di sisi lain, kegagalan yang seringkali diterjemahkan sebagai wujud musibah, ternyata dalam wujudnya tidak sebagai peristiwa tunggal. Disebabkan adanya kegagalan, maka pada diri manusia yang tertimpa kegagalan itu dapat tertimpa pula bentuk-bentuk kegagalan-kegagalan yang lain sebagai efek domino.

Dengan kata lain, dikarenakan adanya kegagalan timbullah masalah-masalah lain yang membutuhkan penyelesaian. Bilamana situasi yang membutuhkan penyelesaian tersebut ternyata mengalami hambatan-hambatan dalam upayanya mencari solusi, maka muncullah frustasi. Yakni, situasi terhambat pada kejiwaan seseorang dalam upayanya untuk pemuasan kebutuhan personal maupun karena tuntutan lingkungan.

Menurut kalangan psikolog, wujud hambatan yang muncul pada diri seseorang yang menghalangi upayanya menemukan solusi dapat disebabkan oleh: Hambatan internal, seperti keterbatasan pengetahuan, keterbatasan kemampuan intelektualitas, atau karena kebodohan; dan hambatan eksternal, seperti adanya ketentuan disiplin, aturan-aturan normatif kemasyarakatan, atau pembatasan-pembatasan atas perilaku sosial lainnya.

Dalam menghadapi situasi frustasi, setiap manusia memiliki toleransi frustasi yang sifatnya individual sekali. Yakni, sebagai batas ambang intensitas kondisi frustasi yang dapat diatasi, tanpa menyertakan gangguan fungsi kepribadian atau mental. Batas ambang frustasi seseorang berkait erat dengan aspek kepribadian yang perkembangannya sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain keturunan, lingkungan sosial dan pergaulan, serta watak dasar yang dimiliki oleh yang bersangkutan.

 
Selamat Datang di Website Resmi Masjid Agung Jami Malang - Indonesia , Kirimkan Kritik, Saran dan Informasi ke admin@masjidjami.com