FOLLOW KAMI DI

Pencarian
Polling
Bagaimanakah Website Masjid Agung Jami Malang ?
 
Jumlah Pengunjung
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini616
mod_vvisit_counterKemarin521
mod_vvisit_counterMinggu Ini1584
mod_vvisit_counterMinggu Lalu3465
mod_vvisit_counterBulan Ini10735
mod_vvisit_counterBulan Lalu14558
mod_vvisit_counterJumlah1764385

We have: 27 guests online
IP: 54.226.58.177
22 Jan, 2019



PostHeaderIcon Terbaru

Kebahagiaan Sejati dari Cinta Allah
Oleh: KH. Abdurrahman Yahya

“Barang siapa yang dalam dirinya terdapat tiga perkara, maka dia akan merasakan manisnya iman (kebahagiaan sejati). Pertama, mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi cintanya kepada yang lain. Kedua, mencintai manusia karena cinta kepada Allah semata-mata. Ketiga, membenci kekufuran seperti kebenciannya jika dilempar ke dalam api neraka.” (HR. Bukhori Muslim).

Dalam hadis lain diterangkan, bahwa manusia di akhirat kelak akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya. Rasulullah saw bersabda, “Engkau akan bersama orang yang kamu cintai.” Karena itu, Rasulullah saw sering kali berdoa agar diberikan rasa mahabbah kepada Allah swt. “Tuhanku, berikanlah kepadaku rasa cinta kepada-Mu dan orang-orang yang cinta kepada-Mu. Berikanlah kepadaku rasa cinta terhadap sesuatu yang bisa mendekatkanku agar cinta kepada-Mu. Jadikanlah cinta-Mu sesuatu yang lebih aku cintai dari pada air yang sejuk (kehidupan).

Tanda-tanda Orang yang Mencintai Allah

Menurut Imam Ghozali seperti yang dikutip dalam kitab al Hikam karya Ibnu Athoillah al Askandari, ada sepuluh ciri orang yang cinta kepada Allah, yaitu :

1. Tidak ada keraguan dalam menghadapi kematian, sebab dengan kematian itu dia akan bertemu dengan Dzat yang dicintainya yaitu Allah Azza wa Jalla. Dia menghadapi kematian seperti Nabi kekasih Allah Ibrahim as. Ketika didatangi Malaikat Izro’il saat memberitahukan bahwa roh Ibrahim akan dicabut. Tanpa ragu nabi Ibrahim menjawab, “Kalau begitu, sekarang saja silahkan engkau cabut ruhku.”

2.Senantiasa mengendalikan hawa nafsunya dan memusatkan segala perbuatannya yang lahir dan batin dalam mentaati perintah Allah swt.

3.Selalu berdzikir (ingat) kepada Allah swt.

4.Rajin berkhalwat dan bersunyi diri untuk mengenang Allah swt selalu memohon dan mengerjakan shalat malam dan shalat sunnah lainnya selain shalat fardhu.

5.Selalu mengadakan koreksi dan introspeksi atas kelalaian dan kealpaannya, menyesali waktu yang terbuang percuma yang tidak dipergunakan untuk amalan-amalan kebaikan.

6.Merasa nikmat dan bahagia bila  dapat mengerjakan ibadah secara tertib dan tidak merasa berat melakukannya.

7.Berlaku ramah terhadap sesama kaum muslim dan bersikap tegas terhadap orang kafir. Benci terhadap perbuatan-perbuatan maksiat dan marah terhadap orang-orang yang melakukan kejahatan.

8.Mengerjakan ibadah bukan karena takut, tetapi benar-benar melaksanakannya karena merupakan suatu kewajiban seorang hamba.

9.Menyembunyikan amal ibadanya dari penglihatan orang banyak dan tidak mempopularitaskan amalnya supaya dipuji atau disanjung orang.

10.Senantiasa melekat hatinya kepada Allah dan ridho menerima cobaan yang ditimpakan kepadanya.

Memupuk Cinta Allah

Untuk menumbuhkan rasa cinta kepada Allah :

pertama seseorang harus mengenal dulu siapa sebenarnya Allah swt itu dengan segala sifat-sifat-Nya. Karena itu seseorang harus belajar ilmu Tauhid. Dia harus menyadari bahwa semua yang ada di dunia ini, Allah lah penciptanya. Selain itu harus juga memiliki kesadaran bahwa semua makhluk Allah itu dijamin penghidupannya oleh Allah. “Tidak ada satu binatang melata pun di bumi ini melaikan Allah lah yang memberinya rizki.” (QS. Hud: 6). Untuk memperoleh kesadaran itu, seseorang harus banyak mendapat masukan dari orang yang ahli agama, atau paling tidak membaca literatur agama. Harus sering melakukan tafakkur (perenungan) terhadap semua yang tampak di hadapannya. Memikirkan keberadaan masing-masing makhluk termasuk kejadian-kejadian alam yang ada, serta keberadaan dirinya sendiri. Man arofa nafsahu arofa robbahu. Barang siapa yang mengetahui kelemahan dirinya maka ia akan mengetahui keagungan Tuhannya.

Kedua,  seseorang harus berlatih diri untuk selalu berdzikir (ingat) kepada Allah swt. Ingat bahwa dirinya selalu diawasi oleh-Nya. Ingat bahwa Allah lah tempat untuk mengadu dan meminta pertolongan. Dia lah yang mejamin kehidupannya.

Ketiga, menghidarkan diri dari hal-hal yang dapat menimbulkan murka Allah seperti melakukan maksiat dan menyakiti orang lain.

Keempat, melatih diri untuk tidak tergantung kepada isi dunia. Pertebal rasa tawakkal (pasrah diri) kepada Allah swt tentunya dengan tetap berusaha secara lahir dan batin. Kelima, memohon kepada Allah agar diberikan rasa cinta kepada-Nya.

Penulis adalah Pengasuh PP. Miftahul Huda, Gading, Malang

 
Selamat Datang di Website Resmi Masjid Agung Jami Malang - Indonesia , Kirimkan Kritik, Saran dan Informasi ke admin@masjidjami.com