FOLLOW KAMI DI

Pencarian
Polling
Bagaimanakah Website Masjid Agung Jami Malang ?
 
Jumlah Pengunjung
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini559
mod_vvisit_counterKemarin589
mod_vvisit_counterMinggu Ini1148
mod_vvisit_counterMinggu Lalu4931
mod_vvisit_counterBulan Ini9694
mod_vvisit_counterBulan Lalu9915
mod_vvisit_counterJumlah1734631

We have: 14 guests online
IP: 54.90.185.120
19 Nov, 2018



PostHeaderIcon Terbaru

Takdir dalam Bahasa Alqur'an
Oleh: KH. Dr M Quraish Shihab, MA.

Kata takdir (taqdir) terambil dan kata qaddara berasal  dari akar  kata qadara yang antara lain berarti mengukur, memberi kadar atau ukuran, sehingga jika Anda berkata, "Allah  telah menakdirkan   demikian,"  maka  itu  berarti,  "Allah  telah memberi kadar/ukuran/batas tertentu dalam diri, sifat,  atau kemampuan maksimal makhluk-Nya."

Dari sekian  banyak  ayat  Alquran  dipahami  bahwa  semua makhluk telah ditetapkan takdirnya oleh Allah. Mereka tidak dapat melampaui batas ketetapan itu, dan Allah SWT. Menuntun dan menunjukkan mereka arah  yang  seharusnya  mereka  tuju. Begitu  dipahami  antara lain dari ayat-ayat permulaan Surat Al-A'la (Sabihisma).

"Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi,  yang  menciptakan (semua  mahluk)  dan  menyempurnakannya, yang memberi takdir kemudian mengarahkan(nya)." (QS Al-A'la [87]: 1-3).

Manusia mempunyai kemampuan terbatas  sesuai  dengan  ukuran yang  diberikan oleh Allah kepadanya. Makhluk ini, misalnya, tidak dapat terbang. Ini merupakan salah satu ukuran  atau batas kemampuan yang dianugerahkan Allah kepadanya. Ia tidak mampu melampauinya,  kecuali  jika  ia  menggunakan  akalnya untuk  menciptakan  satu  alat, namun akalnya pun, mempunyai ukuran yang tidak mampu dilampaui.

Di  sisi  lain,  manusia berada  di bawah hukum-hukum Allah sehingga segala yang kita lakukan pun  tidak  terlepas  dari  hukum-hukum  yang  telah mempunyai  kadar  dan  ukuran  tertentu.  Hanya  saja karena hukum-hukum tersebut cukup banyak, dan kita diberi kemampuan memilih -tidak sebagaimana matahari dan bulan misalnya- maka kita  dapat  memilih  yang  mana  di  antara   takdir   yang ditetapkan   Tuhan   terhadap  alam  yang  kita  pilih.

Api ditetapkan Tuhan panas dan membakar, angin dapat menimbulkan kesejukan  atau  dingin;  itu  takdir  Tuhan  -manusia boleh memilih api yang membakar atau angin yang sejuk-. Di sinilah pentingnya  pengetahuan  dan  perlunya  ilham  atau petunjuk Ilahi.

Salah satu doa yang diajarkan Rasulullah adalah: "Wahai Allah, jangan  engkau  biarkan  aku  sendiri  (dengan pertimbangan nafsu akalku saja), walau sekejap."

Ketika  di  Syam  (Syria, Palestina, dan sekitarnya) terjadi wabah, Umar  ibn  Al-Khaththab  yang  ketika  itu  bermaksud berkunjung  ke  sana  membatalkan rencana beliau, dan ketika itu tampil seorang bertanya: "Apakah Anda lari/menghindar dari takdir Tuhan?" Umar r.a. menjawab, "Saya lari/menghindar dan  takdir  Tuhan  kepada  takdir-Nya yang lain."

Demikian juga ketika Imam Ali r.a. sedang duduk bersandar di satu tembok yang ternyata rapuh,  beliau  pindah  ke  tempat lain.  Beberapa  orang  di  sekelilingnya  bertanya  seperti pertanyaan di atas. Jawaban Ali  ibn  Thalib,  sama  intinya dengan   jawaban   Khalifah   Umar   r.a.  Rubuhnya tembok, berjangkitnya penyakit adalah berdasarkan  hukum-hukum  yang telah ditetapkan-Nya, dan bila seseorang tidak menghindar ia akan menerima akibatnya. Akibat  yang  menimpanya  itu  juga adalah  takdir,  tetapi  bila  ia  menghindar dan luput dari marabahaya  maka  itu  pun  takdir.

Bukankah  Tuhan   telah menganugerahkan   manusia  kemampuan  memilah  dan  memilih? Kemampuan ini  pun  antara  lain  merupakan  ketetapan  atau takdir  yang  dianugerahkan-Nya Jika demikian, manusia tidak dapat luput dari  takdir,  yang  baik  maupun  buruk.  Tidak bijaksana  jika  hanya  yang  merugikan  saja  yang  disebut takdir,  karena  yang  positif  pun  takdir.  Yang  demikian merupakan  sikap 'tidak menyucikan Allah, serta bertentangan dengan petunjuk Nabi Saw.,'  "...  dan  kamu  harus  percaya kepada  takdir-Nya  yang  baik  maupun  yang  buruk."

Dengan demikian, menjadi jelaslah kiranya bahwa adanya takdir tidak menghalangi manusia untuk berusaha menentukan masa depannya sendiri, sambil memohon bantuan Ilahi.

 
Selamat Datang di Website Resmi Masjid Agung Jami Malang - Indonesia , Kirimkan Kritik, Saran dan Informasi ke admin@masjidjami.com