FOLLOW KAMI DI

Pencarian
Polling
Bagaimanakah Website Masjid Agung Jami Malang ?
 
Jumlah Pengunjung
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini92
mod_vvisit_counterKemarin454
mod_vvisit_counterMinggu Ini3104
mod_vvisit_counterMinggu Lalu4050
mod_vvisit_counterBulan Ini15309
mod_vvisit_counterBulan Lalu17625
mod_vvisit_counterJumlah1658813

We have: 44 guests online
IP: 54.162.184.214
23 Mei, 2018



PostHeaderIcon Terbaru

Rabi’ah ‘Adawiyah
Hamba Sahaya yang Tidak Takut Neraka

Rabi’ah binti Ismail al-Adawiyah dilahirkan di Basrah sekitar tahun 95 H/713, dan meninggal pada tahun 185/801. Diberi nama Rabi’ah karena merupakan puteri keempat dari tiga bersaudara. Dia berasal dari keluarga miskin. Bahkan pada waktu dilahirkan, rumah tangga orang tuanya sedang mengalami krisis ekonomi, hingga minyak untuk lampu penerangan guna kelahirannya tidak dimiliki. Kemiskinan yang berkepanjangan itu membuat Rabi’ah berpindah status menjadi seorang hamba sahaya.

Kehidupan hamba sahaya penuh dengan penderitaan, dan selalu datang silih berganti. Kemampuan Rabi’ah untuk menggunakan alat musik dan menyanyi  dimanfaatkan oleh majikannya, yang rakus dengan harta dunia. Rabi’ah sadar benar terhadap dirinya sebagai hamba sahaya, dan diperas sedemikian rupa oleh majikannya. Karenanya, setiap waktu dia selalu meminta petunjuk dan bimbingan kepada Tuhan. Dia yakin benar bahwa pada suatu waktu pertolongan Tuhan akan datang, dan Tuhan tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang selalu dalam penderitaan, serta  selalu mendekat kepada-Nya.

Dalam suasana duka dengan penderitaan, dan himpitan tugas yang diberikan majikannya, dia sering mendapat bisikan: “Jangan engkau bersedih hati, karena kelak dikemudian hari orang-orang yang dekat kepada-Ku akan cemburu melihat kedudukanmu.”

Setiap hari selalu terjadi perubahan dalam diri Rabi’ah. Dia semakin tidak menghiraukan sekelilingnya, meski tugas-tugasnya setiap hari tetap dilaksanakan, bahkan dia tidak memperhatikan lagi terhadap dunia. Hal itu mulai diketahui majikannya. Suatu malam, majikannya menyaksikan sendiri Rabi’ah yang sedang sujud mengerjakan shalat malam. Setelah shalat, dia berdo’a sambil berkata: “Ya Rabbi, Engkau Maha Tahu, bahwa aku sangat ingin selalu bersama-Mu, hati nuraniku sangat ingin berbakti sekuat tenagaku untuk-Mu. Seandainya aku yang menentukan keadaanku, maka sejenak pun aku tak ingin menghentikan baktiku pada-Mu. Tetapi Engkau telah menempatkan aku dibawah kemurahan hati orang lain.”

Pagi harinya, Rabi’ah dipanggil oleh majikannya dan berkata kepadanya: “Wahai Rabi’ah, aku telah memutuskan untuk memerdekakan engkau dengan sepenuhnya. Seandainya engkau ingin menetap tinggal di rumahku ini, kami semua akan gembira dan menerima engkau sebagai orang yang bebas dan menerima fasilitas dari kami. Tetapi seandainya engkau berkeinginan untuk meninggalkan rumah ini, maka kami mendo’akan keselamatan bagimu dan segala permintaanmu untuk itu akan kami kabulkan”.

Perubahan sikap dari majikannya itu, karena berbagai hal yang menjadi kenyataan, bagaimana usaha Rabi’ah dalam menghambakan diri kepada Allah yang disaksikan sendiri oleh majikannya, dan berbagai isyarat yang memberikan kesan bahwa Rabi’ah tidak dapat dimanfaatkan lagi sebagai hamba sahaya.

Sejak itu, dia kembali ke desa di mana dilahirkan dengan membina kehidupan baru dan menolak kesenangan dan kelezatan dunia, kehidupan yang dibina atas dasar zuhud, dan mengisinya dengan semata-mata beribadah kepada Allah yang menjadi tumpuan segala cintanya selama ini.

Disamping memperbanyak tobat, zikir dan puasa, serta shalat siang malam, sebagai manifestasi dari cintanya kepada Allah SWT. Memang Rabi’ah tidak membutuhkan dunia dan keluluhannya dalam cinta abadi membuat dunia tidak ada, bahkan dirinya sendiri tidak diingatnya lagi. Tasawuf Rabi’ah bertitik tolak dari cinta semurni-murninya kepada Allah SWT. Cinta membawa takwa dan karena cinta pula yang membuat dia tidak mengharap balasan atau ganjaran dari Allah SWT. Cinta Rabi’ah adalah cinta abadi kepada Tuhan yang melebihi segala yang ada, cinta abadi yang tidak takut kepada apa saja walau kepada neraka sekalipun.

Apabila Rabi’ah ‘Adawiyah jatuh cinta kepada Tuhan, maka masyarakat dari semua lapisan mencintai Rabi’ah hingga orang-orang datang ke rumahnya meminta petuah-petuah dan pelajaran atau sekedar mencari berkah darinya, bahkan hanya untuk silaturrahmi. Tokoh-tokoh besar Malik bin Dinar, Sofyan Tsauri sampai kepada rakyat biasa datang ke rumah Rabi’ah.

Pada suatu ketika, dua pencuri masuk rumah Rabi’ah. Ketika itu dia sedang melaksanakan shalat malam. Pencuri menunggu sampai selesai, untuk memaksa menyerahkan simpanannya. Selesai  shalat Rabi’ah menyapa orang yang tidak diundang itu, dan mengajaknya untuk sama-sama berdo’a. Entah karena apa mau saja kedua pencuri itu berdo’a. Demikian terkesannya dengan isi do’a Rabi’ah, hingga selesai berdo’a para pencuri pamit pulang. Esok harinya kedua pencuri itu menjadi peserta pengajian Rabi’ah ‘Adawiyah.

 
Selamat Datang di Website Resmi Masjid Agung Jami Malang - Indonesia , Kirimkan Kritik, Saran dan Informasi ke admin@masjidjami.com