FOLLOW KAMI DI

Pencarian
Polling
Bagaimanakah Website Masjid Agung Jami Malang ?
 
Jumlah Pengunjung
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini276
mod_vvisit_counterKemarin239
mod_vvisit_counterMinggu Ini2018
mod_vvisit_counterMinggu Lalu2836
mod_vvisit_counterBulan Ini11794
mod_vvisit_counterBulan Lalu17641
mod_vvisit_counterJumlah1536774

We have: 3 guests, 1 bots online
IP: 23.20.129.162
23 Nov, 2017



PostHeaderIcon Terbaru

Makna Penjara
Oleh : Mohammad Sobary

Ketika Uni Soviet masih sebuah negara yang  dikuasai  partai tunggal  Golkom  (golongan  komunis),  para pembangkang yang paling gigih dan  berani  pun  mengkeret  menghadapi  sistem penjara  yang  terkenal  kejam.  Di  sana,  dulu,  ada  kamp konsentrasi di Siberia, yang bisa  membekukan  tulang-tulang kering para pembangkang.

Berkat  sistem  penjara yang ganas, kaku dan dingin terhadap rasa  kemanusiaan  itu,  pengarang   besar   Aleksander   I. Solzhenitsyn  menulis  novel The Gulag Archipelago yang juga sudah  difilmkan  dengan  bagus   itu.   Didukung   jaringan mata-mata  Soviet yang efektif dan terkejam di dunia, partai komunis pernah  menjadikan  seluruh  negeri  Soviet  sebagai sebuah penjara raksasa.

Di  negeri kita - Indonesia - penjara atau bui --yang kemudian diubah menjadi "Lembaga Pemasyarakatan"-- tak sekejam itu. Meskipun begitu,  tak  seorang  pun  yang punya cita-cita luhur untuk sesekali mendekam di penjara. Kata penjara itu saja  biarpun sudah  ganti  "kulit" menjadi "Lembaga Pemasyarakatan" sudah menakutkan.

"Filsafat" yang melatarbelakangi sistem  penjara  kita,  dan mungkin  juga  di mana-mana, jelas tidak dibumbui kedengkian dan hasrat balas dendam.  Napi  dipenjara  supaya  merenung, menyesali  perbuatan  dan  memperoleh  pelajaran  untuk bisa hidup kembali di masyarakat secara baik. Tapi di  mana-mana, dan   juga  di  tempat  kita,  kenyataan  sebaliknya  sering terjadi. Maksudnya,  seseorang  dipenjara  kemudian  menjadi lebih jahat, lebih ganas.  

Penjara  memang  mengurung,  membatasi gerak, dan pada batas tertentu, juga melumpuhkan. Bayangkan, orang dikurung  terus dan  tak  pernah  menghirup  kebebasan.  Si  terpenjara bisa dilumpuhkan secara fisik. Bisa juga secara psikologis.

Mantan napi yang kemudian menjadi jahat,  sebenarnya  adalah orang  yang  telah  dilumpuhkan  fungsi-fungsi psikologisnya hingga benih-benih yang memiliki kecenderungan baik itu pada mati,  dan  bibit  kasih  sayangnya pun tak lagi berkembang. Pokoknya, dia berhasil dilumpuhkan. Ini hasil  dari  penjara yang meringkus dan membatasi gerak fisik orang.  

Ada  jenis  penjara  lain.  Orang  tidak  terkurung di dalam penjara tapi ia terpenjara. Dan  celakanya,  banyak  orang  tak menyadari  bahwa  sebenarnya mereka terpenjara juga di dalam seluruh kebebasannya. Dalam konsep  Inggris,  penjara  jenis ini  disebut  captive  mind: jiwa yang terpenjara (sekalipun fisiknya bebas melayang ke mana  saja).  Ini  mungkin  lebih membahayakan  dan  lebih  kejam  dibanding terpenjara secara fisik.
Kebodohan, yang membuat kita menjadi  picik,  keras  kepala, merasa  benar  sendiri,  dan segenap ketidakmampuan bersikap kritis, pada dasarnya adalah  potret  sebuah  keterpenjaraan jiwa.  Pikir  punya  pikir,  di  masyarakat kita banyak ulah manusia  yang  mungkin   bisa   disebut   sebagai   gambaran keterpenjaraan  jiwa itu. Nafsu "berkuasa" secara berlebihan (hasrat  menjadi  sesuatu  dan  tak   memberi   orang   lain kesempatan   menggantinya)  adalah  juga  bentuk  jiwa  yang terpenjara. Untuk  mudahnya,  ini  bisa  dinamakan  "penjara nafsu". Rangkaian  dari  keterpenjaraan ini banyak sekali. Biasanya, lanjutan nafsu berkuasa,  adalah  nafsu  "ingin  punya".  

Di dunia wayang kita kenal dengan Dasamuka. Ia bernafsu menjadi jagoan paling sakti di bumi (bahkan juga  di  langit,  ingin melebihi  para  dewa),  dan  ingin  memiliki  apa  saja yang dimiliki orang lain.

Buat anak yang sudah bisa kerja dibelikan pabrik atau kantor yang disenangi. Untuk istri  dibelikan  kebun  binatang  dan kebun  raya,  mana tahu sang istri ingin menyegarkan jiwanya yang juga terpenjara itu.

Apakah anak-anak yang masih sekolah tak  dibelikan  sesuatu? Jangan  khawatir.  Anak  yang  masih  sekolah juga dibelikan sekolahan. Caranya, supaya tak mencolok, dan tak  jadi  gosip di  luaran, cukup menyogok gurunya. Kalau anaknya yang dungu itu tidak naik, gurunya  dijejali  dompet  penuh  duit.  Dan rapor  yang  terbakar pun dipadamkan. Kemudian si anak dungu diberi kesempatan naik. Kalau anak atau cucu ingin juara dalam  suatu  lomba,  untuk mereka  kejuaraan juga bisa dibeli. Dengan kata lain, mereka
bukan juara, melainkan "dijuarakan".

Betapapun bahayanya terpenjara secara fisik,  segala  dampak negatif  dan aneka corak penderitaannya cukup dirasakan oleh yang  bersangkutan.  Tapi  keterpenjaraan  jiwa,   diam-diam rupanya  merembet,  merayap, dan menggerayangi segenap pihak dalam keluarga.  Bahkan  mungkin  segenap  kerabat,  famili, sanak, dan konco-konco seperjuangan dulu.  

 Keterpenjaraan    jiwa,   pendeknya,   serupa   wabah   yang berjangkit. Wabah itu masa inkubasinya pendek, jangkauan dan daya  ledaknya  luas.  Ancamannya:  gawat,  tapi  tak selalu darurat. Soalnya, yang bersangkutan sering  tak  sadar.  Dan karena  itu  juga  tak  harus  merasa  malu.  Yang ada malah sejenis rasa bangga.
Dokter medis, dokter jiwa, psikolog,  pekerja  sosial,  kiai dan segenap ahli rohani, harus dikerahkan untuk menyembuhkan keterpenjaraan jiwa seperti itu. Jika semua ahli itu masih belum menyembuhkan  juga,  mungkin tinggal  satu  yang bisa dijadikan tumpuan harapan: sejarah. Artinya, biarkanlah sejarah yang sabar dan kalem itu  dengan teliti  mencatat,  merekam,  dan  mengumpulkan segenap fakta yang diperlukan.

Kelak,  akhirnya  sejarah  pun  akan  bisa  berkata  seperti Chairil Anwar: Bila telah sampai waktuku, ku mau tak seorang pun kan merayu. Tidak juga (orang-orang jiwanya terpenjara). Tak  perlu  sedu  sedan  itu.  Karena  kau  terlambat.  Saat kejatuhanmu telah. tiba Selamat jalan.  
Soalnya: tinggal bagaimana kita sendiri. Terpenjara   atau   tidak,   sebenarnya  kita  sendiri  yang menentukan. Bukankah kita diberi  hak  untuk  jadi  arsitek, buat melukis nasib kita sendiri?



 
Selamat Datang di Website Resmi Masjid Agung Jami Malang - Indonesia , Kirimkan Kritik, Saran dan Informasi ke admin@masjidjami.com