FOLLOW KAMI DI

Pencarian
Polling
Bagaimanakah Website Masjid Agung Jami Malang ?
 
Jumlah Pengunjung
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini16
mod_vvisit_counterKemarin239
mod_vvisit_counterMinggu Ini2027
mod_vvisit_counterMinggu Lalu2913
mod_vvisit_counterBulan Ini11534
mod_vvisit_counterBulan Lalu17641
mod_vvisit_counterJumlah1536514

We have: 4 guests, 2 bots online
IP: 54.224.164.166
23 Nov, 2017



PostHeaderIcon Terbaru

Melihat Surga dari Peci

Abunawas sudah muak melihat kemungkaran di depan matanya. Sultan sebetulnya orang baik, tapi para pejabat kerajaan lainnya adalah orang-orang yang rakus. Mereka belum merasa puas dengan gaji yang sudah tinggi. Dengan segala daya, mereka berusaha mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya, halal atau pun haram. Uang negara digerogoti sedikit demi sedikit.

Suatu ketika, Sultan sedang mengadakan pertemuan dengan para menteri dan beberapa pejabat. Tiba-tiba mendapat laporan, jika Abunawas datang, Sultan tampak gembira. Karena memang dia sudah menunggunya. Sultan lantas menjemputnya sendiri ke pintu gerbang. ‘’Masih tetapkah pendirianmu, bahwa engkau bisa mengatasi kesulitan negara kita ini?’’ tanya Sultan kepada Abunawas. ‘’Ya,’’ jawab Abunawas tegas. ‘’Berani engkau menerima hukuman mati jika gagal?’’ ‘’Pantang saya menelan ludah kembali,’’ ujarnya.

Kemudian para dayang diperintahkan untuk menukar pakaian Abunawas yang sudah usang. Barulah dia diizinkan hadir dalam persidangan para menteri. Ketika Abunawas muncul dengan pakaian bersih dan baru, Sultan heran. Karena peci yang dipakainya masih tetap peci yang buruk dan tidak karuan warnanya. ‘’Mengapa pecimu tidak kau tukar, Abunawas? Tanya Sultan.

‘’Maaf, ini peci wasiat. Kita bisa melihat bayangan surga di dalamnya,’’ jawabnya. ‘’Betulkah itu? Awas kalau kau bohong,’’ hardik Sultan.
‘’Betul. Tapi, syaratnya hanya orang-orang yang jujur, yang tidak pernah mencuri uang negara bisa melihat surga di dalamnya. Orang-orang yang curang, para pengkhianat pasti tidak akan menampakkan apa-apa,’’ jelas Abunawas.

Sultan berbisik-bisik, akhirnya dia berkata,’’Hai, Menteri Abbas, kau kukenal jujur. Ambil peci Abunawas, dan coba buktikan. Tampakkah surga itu?’’
Menteri Abbas gemetar. Karena selama ini telah banyak uang negara yang dimakannya. Dia takut ketahuan belangnya. Maka dengan muka pucat diambil peci Abunawas yang butut itu. Masya Allah, baunya bukan main busuknya. Mana sudah penuh daki dan noda-noda keringat. Tidak ada apa-apa di situ. Apalagi bayangan surga, bayangan neraka pun juga tidak ada.

‘’Bagaimana Menteri Abbas?’’ tanya Sultan. Menteri Abbas ketakutan. Sebenarnya dia memang tidak melihat apa-apa. Tapi kalau dijawab apa adanya, dia takut Sultan mengetahui  kecurangannya. Maka dia menjawab terpatah-patah. ‘’Hebat, hebat. Surga yang indah. Bidadari berlari-lari ke sana kemari.’’

Sultan merasa sangat takjub. Dia memerintahkan Menteri Harun untuk melihatnya. Menteri tersebut begitu pula. Sudah bolak-baliknya peci itu, namun hanya bau busuknya yang menusuk hidung. Tapi kalau menceritakan yang sebenarnya, dia khawatir Sultan marah karena memergoki ketidakjujurannya. Padahal nyatanya Menteri Abbas bisa melihat surga itu. Kalau tidak melihat, berarti bakal terbukti korupsinya. Jadi dia pun menjawab dengan pura-pura kagum. ‘’Masya Allah, jannatun-naim, jannatun-firdaus. Betul-betul tempat yang indah, rindang, mata air susu mengalir di mana-mana,’’ kata Menteri Harun sambil menggeleng-geleng kepala.

Para pejabat lainnya juga berlaku sama. Sultan makin heran. Maka dia  ingin membuktikannya sendiri. Buru-buru peci itu diambil dan diperhatikannya. Sultan malah jadi tidak mengerti. Semua pejabatnya melihat surga. Tapi, dia tidak melihat apa-apa dalam peci Abunawas itu? Padahal Sultan tidak pernah makan uang negara secara tidak halal. Bahkan dia terbersin-bersin mencium baunya.

‘’Hai Abunawas. Para menteriku semua melihat surga, dan isinya dalam pecimu. Tapi aku tidak melihat apa-apa, kecuali bekas-bekas keringatmu. Jadi mereka jujur, dan akulah yang pengkhianat negara?’’ hardik Sultan.

Abunawas bangkit dari duduknya. Dengan tajam para pejabat ditatapnya seorang demi seorang. Lalu berkata, ‘’Wahai Sultan yang adil dan bijaksana. Pantas negeri ini kacau dan terus melarat. Karena pejabat-pejabatnya semua penjilat dan penipu. Mereka mengatakan melihat surga di dalam peci saya. Karena mereka merasa bersalah dan telah mengkhianati kepercayaan Sultan. Mereka takut kepada bayangannya sendiri, bayangan kepalsuan dan keculasan mereka’’ ujarnya.

 
Selamat Datang di Website Resmi Masjid Agung Jami Malang - Indonesia , Kirimkan Kritik, Saran dan Informasi ke admin@masjidjami.com