FOLLOW KAMI DI

Pencarian
Polling
Bagaimanakah Website Masjid Agung Jami Malang ?
 
Jumlah Pengunjung
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini133
mod_vvisit_counterKemarin621
mod_vvisit_counterMinggu Ini754
mod_vvisit_counterMinggu Lalu3028
mod_vvisit_counterBulan Ini8229
mod_vvisit_counterBulan Lalu14986
mod_vvisit_counterJumlah1548195

We have: 13 guests online
IP: 54.82.79.109
18 Des, 2017



PostHeaderIcon Terbaru

Imam Al Gozali

Hujjatul Islam, yang Menjauhi Kemewahan Dunia

Abu Hamid Muhammad Ibnu Muhammad Ibnu Ahmad, dilahirkan pada tahun 450 H/1059 M di Thus daerah Khurasan. Dia dikenal dengan nama Al Ghozali karena ayahnya pekerja pemintal tenun wol atau karena dia berasal dari Desa Ghazalah. Keluarganya tergolong orang yang kuat beragama, dan termasuk keluarga sufi.

Al Ghozali mulai belajar kepada Ahmad Ibnu Muhammad Al Razkani al-Thusi. Setelah itu pindah ke Jurjan dan memasuki pendidikan yang dipimpin Abu Nashr Al-Ismaili, dengan mata pelajaran yang luas, meliputi semua bidang agama dan bahasa. Setelah tamat, kembali ke Thus dan mengkaji ulang atas semua yang telah dipelajarinya sambil belajar tasawuf dengan Syekh Yusuf Al-Nassaj.

Sekitar tiga tahun di Thus, Al Ghozali berangkat melanjutkan pelajaran ke Nisyapur belajar kepada Abul Ma'al al-Juwaini, yang bergelar Imam Al-Haramain, dalam beberapa bidang ilmu keislaman. Disamping belajar, juga mulai mengajar dan menulis dalam ilmu Fiqih. Sewaktu Imam al-Juwaini, gurunya wafat, Al Ghozali pindah ke Mu'askar mengikuti berbagai forum diskusi dan seminar kalangan ulama dan intelektual. Disini, karirnya melejit, segala kecermelangan menjulang tinggi, dan membawanya menjadi guru besar di Perguruan Nidzamiyah di Baghdad pada tahun 484 H. Sambil memberi kuliah, dia juga mengkaji filsafat Yunani dan filsafat Islam sampai tuntas.

Kecemerlangan dan keharuman namanya di Baghdad melebihi di Mu'askar dan kesenangan duniawi melimpah ruah. Namun, keadaan itu bukan semakin menambah kebahagiaannya, justru malah membawa sakit sampai secara tiba-tiba meninggalkan Baghdad mengundurkan diri dari kemewahan duniawi itu. Kemudian menuju Damaskus di Syiria mulai 488/1095, suatu kota yang banyak dihuni kalangan sufi. Di Masjid Umawi, Al Ghozali ber'itikaf dan berdzikir di puncak menara sebelah barat, sepanjang hari dengan makan dan minum yang terbatas.

Setelah meninggalkan Damaskus menuju Baitul Maqdis di Palestina. Di sini, setiap hari masuk Qubbah Shahrah dan mengunci pintunya untuk uzlah dan berdzikir. Beliau juga sempat berziarah ke makam Nabi Ibrahim as, serta menunaikan ibadah haji, dan berziarah ke makam Rasulullah. Beberapa tahun kemudian kembali ke Thus dan mendirikan khanaqah untuk para sufi dan mendirikan madrasah untuk mengajar ilmu tasawuf. Di daerah kelahirannya, Imam Ghozali yang bergelar hujjatul Islam meninggal dunia pada hari Senin 14 Jumadil Akhir 505 H.

Imam Ghozali banyak meninggalkan karya tulis, yang meliputi berbagai bidang keislaman, Kalam, Fiqih, Filsafat, Tasawuf, dan lain-lain dalam bentuk buku maupun risalah. Diantara puluhan kitab karya Imam Al Ghozali yang paling terkenal, dan membahas tentang tasawuf adalah Ihya 'Ulumuddin. Dalam kitab tersebut menghimpun tentang akidah, syariat dan akhlak dalam satu sistematika yang kuat dan amat berbobot. Teori-teori tasawuf itu lahir dari kajian dan pengalaman pribadi, setelah melaksanakan suluk dalam riyadhah dan mujahadah yang intensif dan berkesinambungan.

Konon, ketika Imam Al Ghozali masih menekuni fiqih, sewaktu menjadi imam dalam shalat bersama keluarganya, beliau ditegur oleh saudaranya Ahmad, karena shalatnya tidak bagus dan cacat. Teguran Ahmad itulah, salah satu dorongan Imam Ghozali untuk belajar dan mengkaji tasawuf dengan tuntas. Beberapa tahun kemudian, Al Ghozali menulis sebuah kitab yang diberi judul Al-Madhunun Bih'Ala Ghairi Ahlih, sebagai kenangan untuk saudaranya itu.

Menurut Al Ghozali perjalanan tasawuf itu pada hakikatnya adalah pembersih diri dan pembeningan hati terus-menerus hingga mampu mencapai musyadah. Karena itu, Al Ghozali menekankan betapa pentingnya pelatihan jiwa, penempatan moral atau akhlak yang terpuji baik di sisi manusia maupun di sisi Tuhan. Sarana makrifat, menurut Al Ghozali, bukan akal, indera atau rasa, tetapi hati (al-qalbu). Hati bukan dalam arti segumpal daging dalam dada sebelah kiri itu, sebagaimana biasanya disebutkan. Namun ia adalah percikan rohaniah ketuhanan (latifah rabbaniyah) yang merupakan kebenaran hakiki manusia.

Menurut Al Ghozali, hati (al-qalbu) ibarat cermin yang mampu menangkap makrifat ketuhanan. Kemampuan hati tersebut tergantung pada bersih dan beningnya hati itu sendiri. Apabila dalam keadaan kotor atau penuh debu dosa, maka ia tidak akan bisa menangkap makrifat. Metode pencapaian yang digunakan metode kasyf, yaitu terbukanya dinding yang memisahkan antara hati dengan Tuhan, karena begitu bersih dan beningnya hati tersebut, maka terjadi musyahadah yang hakiki. Ibarat seseorang, bukan hanya mendengar cerita tentang sebuah rumah, tetapi dia sudah berada dalam rumah tersebut dan menyaksikan, serta merasakannya.

 
Selamat Datang di Website Resmi Masjid Agung Jami Malang - Indonesia , Kirimkan Kritik, Saran dan Informasi ke admin@masjidjami.com