FOLLOW KAMI DI

Pencarian
Polling
Bagaimanakah Website Masjid Agung Jami Malang ?
 
Jumlah Pengunjung
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini144
mod_vvisit_counterKemarin621
mod_vvisit_counterMinggu Ini765
mod_vvisit_counterMinggu Lalu3028
mod_vvisit_counterBulan Ini8240
mod_vvisit_counterBulan Lalu14986
mod_vvisit_counterJumlah1548206

We have: 23 guests online
IP: 54.82.79.109
18 Des, 2017



PostHeaderIcon Terbaru

Dari Mana Engkau Memperoleh Harta?

Korupsi, perilaku ini sudah seusia umur manusia. Di zaman Khalifah Umar Ibnu Khattab, genderang perang terhadap korupsi ditabuh bertalu-talu. "Dari mana engkau memperoleh?" seakan menjadi kalimat tanya yang wajib diajukan pada para pejabat negara yang baru saja memiliki harta benda. Apalagi, bila harta yang dimilikinya itu jauh melampaui penghasilannya sebagai abdi masyarakat. Motto itu juga dipopulerkan oleh Abu Dzar Al Ghifari, pemilik nama asli Jundub bin Janadah.

Di zaman pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan, motto pemberantasan korupsi itu tetap berlanjut. Pada masa pemerintahan Utsman bin Affan, Abu Dzar tinggal di Damaskus yang waktu itu diperintah oleh Gubernur Mu’awiyah bin Abu Sofyan. Lingkungan sekitar sudah bisa menikmati kehidupan dengan berlimpah. Tapi, Abu Dzar tetap hidup sederhana.

Tak pelak, Abu Dzar akhirnya dikenal sebagai oposan terhadap penguasa Mu’awiyah yang dianggapnya telah larut dalam kemewahan duniawi. Tak hanya itu, penguasa setempat dianggapnya hanya menghambur-hamburkan uang saja.

Saat itulah Abu Dzar mengeluarkan fatwa, "Seorang Muslim tak boleh menyimpan harta lebih dari tiga malam. Kecuali segera dibayarkan kepada mereka yang berhak menerimanya."

Di suatu senja, menjelang maghrib, ada seorang datang ke rumahnya. Sang tamu, yang ternyata adalah seorang utusan, membawa seribu dinar uang emas. Sang utusan, tak mau menyebutkan siapa sebenarnya yang mengirimnya. Tapi, yang jelas, uang tersebut diambil dari baitul maal, dan khusus diberikan kepada Abu Dzar. Uang itu tak ditolak oleh Abu Dzar.

Esok harinya, petugas itu datang lagi. "Maaf tuan. Uang yang semalam kami berikan tuan, ternyata salah alamat. Uang tersebut bukan untuk tuan," kata utusan tersebut.

"Oh ya? Tapi sayang, uang itu sudah habis sebelum salah Isya’. Uang itu telah saya bagi-bagikan kepada fakir miskin," ujar Abu Dzar.

"Tapi, bukankah uang itu ternyata bukan hak tuan?"

"Saya faham. Saya akan mengembalikannnya. Beri saya waktu," tutur Abu Dzar berjanji.

Siapakah sebenarnya yang mengirim uang kepada Abu Dzar? Ternyata yang mengirimnya adalah Gubernur Mu’awiyah. Baik pengiriman maupun penagihan-dengan alasan salah alamat- dirancang dan atas perintah sang Gubernur. Tujuan Mu’awiyah hanya ingin mengetes Abu dzar, sampai dimana dia konsekuen dengan fatwa-fatwanya? Tapi, Abu Dzar ternyata cukup konsekuen.

Ya, Abu Dzar Al Ghifari adalah ulama yang selalu konsisten menyuarakan kebenaran. Sebelum masuk Islam, dia dikenal sebagai perampok padang pasir ang ditakuti. Tapi, setelah masuk Islam, dia adalah salah seorang yang paling konsekuen menegakkan kebenaran. Kekritisannya cukup membuat rikuh pemerintah, terutama Mu’awiyah, Gubernur Damaskus. Karenanya, Abu Dzar Al Ghifari adalah salah seorang sahabat yang disebut Rasulullah SAW. Sebagai calon penghuni surga.

 
Selamat Datang di Website Resmi Masjid Agung Jami Malang - Indonesia , Kirimkan Kritik, Saran dan Informasi ke admin@masjidjami.com